Life is Simple, Problem is Not

SELAMAT DATANG

Jumat, 03 September 2010

Gedung Baru DPR dan Syahwat Wakil Rakyat

Saat ini wakil rakyat (baca: anggota DPR-RI) kita berpenyakit syahwat. Syahwat yang paling memalukan sekaligus menunjukkan wajah asli kerakusan mereka adalah disetujuinya rencana pembangunan gedung baru berlantai 36 dengan anggaran Rp 1,6 triliun. Dana sebesar itu jika dihitung rata-rata, harga satu ruangan anggota DPR setara dengan nilai Rp 2,8 miliar.



Padahal jika dikomparasikan dengan hasil kerja, anggota wakil rakyat kita itu belum berprestasi sama sekali. Mereka lebih banyak ribut sendiri, antara fraksi pendukung pemerintah dan fraksi yang mengaku barisan oposisi. Saling serang sekadar cari muka di hadapan rakyat melalui media massa. Hasilnya, nol besar!

Marzuki Ali, Ketua DPR-RI sekaligus Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) bahkan tegas mengatakan, rencana pembangunan gedung baru DPR tidak dapat dihentikan. Sebab, panitia kerja pembangunan sudah bekerja. Kader Partai Demokrat ini mengatakan, setuju atau tidak setuju, apa pun aspirasi masyarakat menanggapinya, pembangunan tetap jalan sesuai rencana.

Jika kita membaca tanggapan dari berbagai anggota DPR memang seolah adalah penolakan-penolakan, idem dito dengan pernyataan wakil pemerintah. Tapi anehnya, mereka seolah menjadi goblok semua, karena tak mampu dan tak memiliki daya apa pun untuk menghentikan tindakan tanpa adab itu. Singkatnya, mereka –yang menolak rencana pembangunan itu– hanya mampu berteriak-teriak di media massa.

Mengapa tatkala mereka, per anggota bakal memiliki ruang kerja seluas 120 meter persegi dengan fasilitas super lengkap, suara mereka tidak segarang ketika menuntut kasus dana talangan Bank Century? Atau, tidak berwajah sangar seperti saat mereka meminta penjelasan pemerintah soal insiden dengan negara tetangga Malaysia? Mungkinkah sikap mereka selama ini, yang terkesan kritis dan memihak pemerintah, sebenarnya merupakan wajah lain dari syahwat atau keinginan "memeras" pemerintah? Wallahu'alwam bishowab.

1 komentar:

kiki mengatakan...

benar mungkin wacana yang seharusnya bergulir itu DPR menurunkan gaji mereka.
Tapi itu hal yang hampir tidak mungkin terjadi.
hal ini menunjukan mereka tidak ikhlas membela rakyat.
menurut saya DPR hanyalah kumpulan orang-orang yang membela partai masing-masing.contohnya wakil fraksi demokrat jika ada suatu hal yang bisa membuat SBY buruk di mata masyarakat mereka akan membela SBY walaupun pada kenyataannya mereka salah.
saya mempunyai pendapat bagaimana jika ada suatu isu yang beredar di publik dan membuat resah di adakannya pertemuan rakyat dengan mengumpulkan dari berbagai lapisan masyarakat. mengingat kinerja DPR yang tidak dapat di harapkan