Life is Simple, Problem is Not

SELAMAT DATANG

Selasa, 12 Januari 2010

Perilaku Tokenistik dan Media Menyesatkan

Setiap kemenangan diri idealnya harus pula ditandai dengan terwujudnya kemenangan publik. Kaidah semacam ini merupakan konsekwensi logis. Sebab tidaklah dapat disebut telah terwujud sebuah kemenangan, bila apa yang dinyatakan sebagai kemenangan itu, ternyata tidak dapat dirasakan masyarakat sosialnya.

Orientasi kemenangan diri memang harus memiliki prospek bagi kemenangan pribadi-pribadi lain. Karena optimalisasi kapasitas dan kapabilitas seseorang tidaklah ditujukan kepada dirinya sendiri, melainkan untuk kepentingan orang lain. Baik untuk kepentingan perusahaan, atau kepentingan lain di mana ia melakukan pekerjaan atau aktivitas sosialnya. Di tempat itu ia mengaktualisasikan dirinya.

Selama ini pengertian kebanyakan orang, kemenangan diri adalah milik dirinya sendiri. Meski dalam etika kepribadian kesehariannya tampak seolah menunjukkan adanya perhatian kepada komunitas sosialnya, baik itu kawan sekerja, teman bisnis, maupun atasan, namun perhatiannya itu lebih dilatarbelakangi “target-target” tertentu demi kemenangan diri berikutnya. Populer orang mengistilahkan, ada udang di balik batu.

Ada kepentingan tersembunyi yang bersifat egois daripada ketulusan sikap dan perhatian apa adanya. Perilaku pribadi semacam itu seolah menandai prediksi-prediksi kalangan psikolog maupun sosiolog, yang menyatakan dalam masyarakat pasca-modernitas terdapat kecenderungan ke arah pemikiran dan tindakan yang bersifat kamuflase. Terdapat banyak sikap yang menampilkan materialisasi perilaku sosial.

Situasi itu ditandai dengan semakin banyaknya ragam perilaku tokenistik atau kepura-puraan yang dilakukan dengan berbagai cara. Kita dapat menyaksikan, misalnya bagaimana sebuah lembaga bisnis sebagai market leader memanipulasi informasi demi kepentingan bisnis. Secara tidak langsung melakukan “bisnis penipuan” terhadap konsumen.

Melalui jaringan media massa kita barangkali pernah menyaksikan, seperti apa masyarakat dibuat mencekam dengan berita-berita tentang adanya penyakit sapi gila (mad cow) yang sudah “hadir” di Indonesia. Hampir setiap hari masyarakat digelontor informasi tentang hal itu, hingga timbul kekhawatiran yang amat sangat dengan persoalan daging sehat dan layak dikonsumsi. Bagaimana secara ilmiah, dan ini yang disebut sebagai materialisasi perilaku sosial itu, diuraikan secara berurutan tentang proses sejenis protein tanpa inti yang secara ilmiah disebut “prion” itu tumbuh, menjalar, dan kemudian merusak sistem kerja otak hingga menyebabkan kematian.

Namun, setelah gencar pemberitaan mengenai penyakit sapi gila yang ditemukan pada 1985 di Inggris itu berangsur mereda, segara disusuli dengan maraknya iklan-iklan yang menawarkan daging impor. Iklan-iklan tersebut mempromosikan mengenai apa yang disebut dengan daging yang lebih sehat, higienis, dan terjamin. Dan, daging-daging segar semacam itu hanya dapat diperoleh di supermarket-supermarket, karena memang didatangkan dari luar negeri.

Ilustrasi yang dapat diambil dari peristiwa faktual itu menunjukkan, bagaimana seseorang dengan gagasan serta pemikiran yang sangat orientatif pada keuntungan semata, diwujudkan ke permukaan. Sama sekali tanpa ada pertimbangan, apa dampaknya terhadap pasar-pasar tradisional yang mengandalkan mata dagangan pada produksi daging lokal. Secara diskriminatif, dengan tidak langsung iklan-iklan promosi daging itu ingin mengatakan bahwa daging lokal itu berbahaya untuk dikonsumsi. Tidak sehat. Dan, kemungkinan besar telah terkontaminasi virus sapi gila.

Namun, apa pun alasannya model market war semacam itu jelas tidak berimbang, kalau tidak boleh dikatakan bertindak sewenang-wenang. Hegemoni atas kekuasaan informasi terbukti telah dimanfaatkan oleh pribadi yang sekadar mengejar kemenangan diri, lebih dari yang seharusnya. Dalam kasus tersebut kental sekali nuansa rekayasa informasi dalam upaya membentuk opini, bahwa daging-daging impor segar yang ditawarkan kepada masyarakat adalah daging yang memiliki kualitas lebih baik bagi kesehatan.

Kekerasan informasi seperti itu pernah diprediksikan oleh Akbar S. Ahmed (1993) dalam bukunya berjudul Postmodernism & Islam Nationalism: Predicament & Promise, bahwa media massa sering menampilkan lingkungan sosial yang tidak sebenarnya, sehingga menipu manusia dan menampilkan citra yang bias tentang dunia. Media massa bisa menghibur, mengajar dan mendidik, tetapi lantas menyesatkan kita tanpa henti.

Tidak ada komentar: