Life is Simple, Problem is Not

SELAMAT DATANG

Kamis, 24 Desember 2009

Keyakinan Sumber Kekuatan, Kebiasaan Bawah Sadar # 3

Dengan bersikap konsisten seseorang akan bekerja berdasarkan kekuatan sendiri. Dan kekuatan itu bersumber dari keyakinan dan rasa percaya diri. Apa yang harus dikerjakan merupakan pilihan hidup. Bukan suatu beban yang memberatkan bagi tubuh maupun pikirannya. Demikianlah sikap hidup yang benar.

Padahal di sekitar kita tidak sedikit orang bekerja karena takut kehilangan pekerjaan, yang berarti kehilangan upah. Akibatnya, mereka bekerja tidak dilandasi rasa kesukaan atas pekerjaan itu. Mereka bekerja semata-mata atas dasar upah. Titik. Tidak ada orientasi apa pun terhadap pekerjaannya itu, hingga mereka tidak memiliki rekomendasi apa pun bagi kemajuan dirinya maupun institusi di mana ia bekerja.

Pekerja yang demikian itu, seperti kemukakan Peter F. Drucker (1997), sebenarnya dapat disebut sebagai pekerja manual (manual worker). Pekerja yang senantiasa bisa dinilai berdasarkan kuantitas serta kualitas dari suatu hasil yang bisa ditentukan dan telah pasti. Pekerja manual hanya memerlukan efisiensi. Dengan kata lain kemampuan untuk melakukan segala sesuatunya dengan tepat, dan bukannya kemampuan untuk membuat hal-hal yang tepat bisa terlaksana.

Ini berbeda dengan pekerja berpengetahuan (knowledge worker), yang menggunakan efektifitas sebagai teknologi khusus. Pekerja model terakhir ini tidak bisa diawasi secara dekat dan terinci. Ia hanya bisa dibantu. Namun ia harus mengarahkan dirinya sendiri, dan dia harus bisa memberikan kinerja dan kontribusi untuk bisa mencapai efektifitas. Pekerja berpengetahuan tidak bisa menghasilkan sesuatu yang efektif dengan sendirinya. Ia tidak menghasilkan sebuah produk fisik, seperti sekop, sepasang sepatu, atau sebuah komponen mesin. Tetapi, ia menghasilkan pengetahuan, ide-ide, dan informasi.

“Produk-produk” semacam itu seolah tidak ada gunanya. Seorang berpengetahuan yang lain, harus menerimanya sebagai input dan mengubahnya menjadi output sebelum mereka menemukan wujudnya yang nyata. Dengan demikian, pekerja berpengetahuan harus mengerjakan sesuatu yang tidak perlu dikerjakan oleh pekerja manual. Ia harus menyediakan efektifitas. Ia tidak bisa menggantungkan diri pada perlengkapan yang menyertai output-nya, sebagaimana halnya dengan sepasang sepatu yang dibuat dengan baik.

Kebutuhan akan hadirnya orang-orang yang memiliki prinsip dan orientasi ke masa depan adalah keniscayaan. Peluang yang tidak begitu banyak diminati orang. Hanya orang yang memiliki modal tekat yang kuat, keberanian mengambil risiko, di samping keyakinan serta rasa percaya diri. Orang seperti ini tidak sedang melakukan percobaan-percobaan dalam mempertaruhkan nasib, sebaliknya justru memiliki keyakinan penuh bahwa dirinya adalah orang yang tepat untuk pekerjaan itu. Itulah sebabnya ia memiliki rasa tanggung jawab sepenuhnya atas keputusan-keputusannya. Dirinya siap mengambil risiko apa pun, termasuk kehilangan pekerjaan itu sendiri bila tanggung jawabnya menuntut hal yang demikian.

Memiliki nilai-nilai panutan
Kaidah keempat, yang tidak kalah pentingnya dari kaidah-kaidah sebelumnya, bahwa seseorang harus memiliki nilai panutan. Nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Dalam hal ini biasanya adalah nilai-nilai yang bersumber dari kebenaran ajaran agama, menyusul pendapat kalangan pemikir maupun orang-orang sukses. Dengan memiliki keyakinan terhadap nilai panutan, alam pikir bawah sadar manusia akan bekerja mengolahnya menjadi kekuatan membangkitan motivasi diri. Tentu saja, nilai panutan itu akan mewarnai setiap ide, gagasan, termasuk pemikiran seseorang. Adanya keyakinan penuh seseorang terhadap nilai panutan, seolah tak ada keadaan yang dapat mengalahkannya.

Demikian dahsyatnya kekuatan yang dikandung sebuah keyakinan atas nilai panutan. Kita sering terkagum bercampur haru mendengarkan kisah-kisah dalam perang. Seperti diperlihatkan dalam kancah perang Irak-Iran, Palestine-Israel, perjuangan rakyat Chechnya, perang Vietnam, dan perang-perang lainnya. Ada satu kisah heroik dari medan perang Irak-Iran, ketika kepada orangtuanya dikabarkan dua anaknya tewas tertembak dalam perang, mereka menjawab: “Saya tidak sedih. Saya bahagia dan bangga. Jika saat ini masih memiliki anak lagi, dan pantas untuk berperang. Saya pun pasti memberangkatkannya ke medan pertempuran”. Itulah kekuatan yang tumbuh dari keyakinan atas nilai-nilai kebenaran yang dianut.

Keyakinan yang tumbuh dan bersumber dari nilai-nilai religius, berdasarkan bukti-bukti empirik yang dimulai hampir sejak kelahiran manusia di bumi ini, terbukti paling kuat pengaruhnya. Terbentuknya individu-individu yang memiliki nilai panutan positif sebagai keyakinan bersikap, akan membangkitkan pola berpikir serta tindakan yang senantiasa membangun. Berpikir responsif (Al aqliyyah al Iijabiyyah) demikian itu merupakan ujung tombak bagi proses-proses pengembangan untuk pencapaian kemenangan diri.

Di dunia ini dapat diyakini tidak ada seorang manusia pun yang akan berpikiran negatif, ketika kepada dirinya disampaikan pikiran-pikiran yang positif-responsif. Sebab itulah Nabi Muhammad menegaskan: “Senyumanmu terhadap saudaramu (sesama manusia) adalah sedekah”.

Tebar senyum kepada semua orang, maka semua orang akan tersenyum pula kepadamu. Setelah mereka tersenyum, pikiran-pikiran mereka pun akan terbuka dalam dimensi yang positif, dan itu berarti mereka sudah siap menerima kita, ide-ide kita, gagasan-gagasan kita, atau apa pun yang bakal memberikan kemenangan bersama (win-win solution).

Dalam tahapan proses dialogis yang semacam itu, janganlah sekali-kali terbersit dalam pikiran kita niatan untuk melakukan manipulasi-manipulasi yang bertujuan mengeksploitasi situasi kondusif yang telah tercipta. Biarkanlah suasana berkembang sebagaimana adanya. Yang penting, bahkan perlu dimotivasi adalah, menciptakan secara terus-menerus tanpa rasa bosan situasi yang mampu menumbuh-kembangkan pikiran-pikiran positif dalam kerangka mewujudkan ide-ide maupun gagasan-gagasan menjadi sebuah realitas.

Meyakini kebenaran nilai yang kita anut, bila hal itu bersumber dari Allah, dalam iman orang beragama, maka hal itu dapat dinyatakan sebagai wujud pengabdian. Sebaliknya, bila gejala pengabdian itu dilakukan terhadap sesuatu yang lain, dapatlah disebut telah melakukan penuhanan kepada toghut, yang arti harfiyahnya adalah berhala.

Pada dasarnya manusia itu hanya mempunyai pilihan, yaitu agama kemanusiaan dan agama perbudakan. Agama kemanusiaan memilih cinta sebagai orientasi, sedangkan agama perbudakan bisa memilih kekuasaan atau seks sebagai obyek pengabdian. Dan, manusia yang menyerahkan dirinya untuk dikuasai oleh sesuatu, berarti menjadikan sesuatu yang menguasainya itu toghut. Dalam dimensi yang demikian itu, manusia yang seperti itu sebenarnya telah kehilangan eksistensinya. Sosoknya telah terikat kepada siapa ia menggadaikan jiwanya.

Tidak ada komentar: